Pendekar Bloon 40

Barisan Lo-han-tin itu tak mengacuhkan. Mereka tahu kakek
itu memang seorang limbung. Makin dilayani makin menggila.

"Nah, aman," kata kakek Lo Kun kepada kakek Kerbau Putih
dan Blo'on, "sekarang kita boleh mulai mengajarnya. Engkau
dulu yang memberi pelajaran."

"Baik" kakek Kerbau Putih tak mau banyak bicara. Ia terus
suruh Blo'on memperhatikan dan menirukan gerakannya.
Kakek itu segera bergerak gerak, cepat dan dahsyat, macam
orang menerkam, meneliku. menampar-nampar.

Sebenarnya Blo'on hendak membantah. Ia tak suka belajar
silat. Tetapi karena merasa sudah terlanjur berjanji kepada Bu
Kek lojin, ia harus menemui kepala Siau-lim-si. Dan karena
dirintangi oleh ke 108 paderi yang menghadang dengan
barisan Lo-han-tin, terpaksa ia mau juga menerima pelajaran
silat dari kakek Kerbau Putih.

"Nah, sekarang engkau harus menirukan," seru kakek
Kerbau Putih setelah selesai memainkan seluruh jurus ilmu
pukulannya.

Blo'on terpaksa menurut. Ternyata dia berotak cerdas dan
memiliki bakat yang amat bagus sekali. Soalnya karena tak
mau, maka ia tak dapat main silat. Tetapi setelah ia
menumpahkan minat ternyata dalam waktu yang singkat ia
dapat menirukan.

"Gila !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru kaget,
“mengapa tamparanmu jauh lebih keras dari aku ?"

"Entahlah," sahut Blo’on ringkas. Memang ia tak menyadari
bahwa setelah makan rumput Kumis naga dan minum pil
darah ki-lin emas, jalan darah Seng si-hian-kwan dalam
tubuhnya telah terbuka Dengan demikian ia dapat bergerak,
cepat dan keras. Seperti telah diterangkan dibagian muka, Blo’on menderita
sakit hilang ingatan akan masa yang lampau. Maka ia tak ingat
lagi siapa dirinya, siapa namanya bahkan siapa pula
ayahbundanya. Pendek kata, ia lupa akan segala yang terjadi
di masa lampau. Tetapi untuk saat yang sedang di alami hari
itu, ia dapat berpikir normal seperti orang biasa. Memang
penyakit yang dideritanya luar biasa anehnya.

"Hayo, ulangi lagi," perintah kakek Kerbau Putih dengan
bengis, "kalau salah, ..aku malu."

Entah bagaimana terhadap kedua kakek itu Blo'on memang
menurut. Padahal dulu, dia selalu menentang dan
membangkang semua perintah ayahnya.

"Murid yang pintar, engkau!" seru kakek Kerbau Putih
setelah melihat Blo'on mengulangi lagi jurus permainannya,
"ingin tahu apa nama ilmu pukulan itu ?"

Bloon tercengang : "O, apakah ilmusilat itu juga ada
namanya ? Lalu apakah nama ilmusilat yang engkau ajarkan
kepadaku itu ?"

"Hang-liong-sip-pat-ciang !"

"Hang-liong-sip-pat-ciang ? Apakah artinya?" tanya Blo'on.

"Delapanbelas tamparan menundukkan naga. Dengan
delapanbelas kali cara menampar itu, jangan kan manusia,
nagapun tentu dapat ditundukkan !"'

"O, terima kasih, terima kasih," tiba-tiba Blo'on
membungkuk tubuh memberi hormat kepada kakek itu.

Kakek Kerbau Putih kesima, serunya: "Aneh, engkau
mendapat apa-apa, diam saja. Tetapi mengapa mendapat
ilmusilat begitu, engkau terus menyatakan terima kasih. Apa
sebabnya ?" "Aku menderita penyakit aneh. Aku tak ingat lagi apa yang
terjadi pada masa yang lampau Menurut keterangan seorang
anak perempuan murid Hoa-san-pay yang bernama Walet-
kuning, penyakitku itu hanya dapat disembuhkan kalau makan
otak naga. Nah, setelah mendapat pelajaran Hang-liong-sip-
pat-ciang itu, bukankah aku tentu bakal dapat menangkap
naga itu ?"

'O . . ," kakek Kerbau Putih melongo, la sendiri juga tak
tahu apakah otak naga itu benar-benar mempunyai khasiat
untuk menyembuhkan penyakit hilang-ingatan.

"Hayo, sekarang ganti engkau yang memberi pelajaran,
setan tua," seru kakek Kerbau Putih kepada Lo Kun, "tetapi
harus yang istimewa. Jangan ilmusilat cakar ayam."

"Hm . . ." kakek Lo Kun diam, kerutkan dahi dan garuk-
garuk kepala, "engkau sudah memberi pelajaran ilmu
memukul lalu aku apa ya ? . . . eh. begini sajalah Aku akan
mengajarkan ilmu berlari. Jadi kalau engkau mengajarkan
gerakan tangan, sekarang aku hendak memberinya ajaran
cara menggerakkan kaki."

"Hai, apakah belum selesai ?" tiba-tiba paderi kurus
pemimpin barisan Lo han-tin berseru.

"Kurang ajar engkau kepala gundul," damprat kakek Lo
Kun, "mengapa engkau berani mengganggu orang memberi
pelajaran silat ?"

"Kakek linglung." Karena jengkelnya berulang kali dimaki
'kepala gundul' paderi kurus Goan balas memaki, "mengapa
begitu lama belum selesai! Kalau suruh kami menunggu
sampai berjam-jam engkau licik artinva '"

"Licik ?" seru kakek Lo Kun. "Ya, dengan berdiri berjam-jam begini, tenaga kami tentu
habis dan semangatpun menurun. Dengan begitu bukankah
mudah saja engkau hendak membobol barisan kami ?"

"Jangan banyak bicara, tunggu lagi sebentar Aku baru
mengajarkan sebuah ilmu yang hebat. Jangan harap kalian
nanti mampu mencekalnya." seru Lo Kun cepat menyuruh
Blo'on memperhatikan Kakek Lo Kun yang limbung itu terus
berge'rak. Ia berlari melingkar-lingkar dengan cepat sekali
sehingga dalam waktu sekejab saja. orangnya sudah tak
kelihatan tetapi berganti dengan sebuah lingkaran sinar hitam
Kemudian kakek itu perlambat gerakannya lalu berloncatan
naik turun dan terakhir lalu bergerak menubruk kekanan
menerkam ke kiri.

"Hayo. sekarang engkau harus menirukan," seru kakek Lo
Kun kepada Blo'on. Apa boleh buat Blo'onpun segera menurut
perintah. Setelah diberi petunjuk cara menggerakkan kaki,
melakukan pernapasan dan cara menubruk serta menerkam,
puaslah kakek itu.

"Kurang ajar. mengapa gerakanmu lari lebih cepat dari
aku?" ia bersungut-sungut ketika melihat Blo'on amat tangkas
sekali.

"Entah." Blo'on melongo, "aku sendiri juga heran mengapa
kakiku ringan sekali. Eh, apakah Ilmu berlari yang engkau
ajarkan itu juga ada namanya ?"

"Sudah tentu ada," sahut kakek Lo Kun dengan busungkan
dada," sebenarnya ilmu itu berasal dari ilmu pedang Tui-hong-
kian ..."

"Tui-hong-kiam ?" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berteriak
kaget. "Ya, Tui-hong-kiam atau ilmupedang Pedang-terbang,"
jawab Lo Kun. "karena aku tak suka memakai pedang, lalu
kuciptakan gerak tersendiri yang kuben nama Tui-hung-kan-
ing atau Mengejar-angin-memburu-bayangan. Dengan ilmu
ciptaanku itu aku tak pernah gagal untuk berburu harimau."

"Gila," tiba-tiba kakek Kerbau Putih berteriak,"lalu apakah
sekarang engkau masih dapat memainkan ilmu Tui hong-kiam
itu ?"

"Perlu apa ?" dengus kakek Lo Kun, "kan lebih sah dengan
ilmu ciptaanku sendiri daripada ilmu pedang ajaran orang."

"Siapa yang mengajarkan engkau ilmu pedang Tui-hong-
kiam itu ?" tanya kakek. Kerbau Putih pula.

"Cu Goan-ciang, raja pertama dari kerajaan Beng. Karena
aku menjadi pengawal peribadinya dia amat sayang sekali
kepadaku dan memberi ajaran ilmu pedang itu."

'O. kakek goblok," teriak kakek Kerbau Putih. "ilmupedang
Tui hong-kiam itu merupakan ilmu pedang jaman dahulu yang
sekarang sudah tak pernah muncul di dunia persilatan. Ilmu
itu sebuah ilmu pusaka yang luar biasa saktinya. Engkau harus
menurunkan kepada lain orang supaya ilmu itu jangan lenyap
terkubur dengan mayatmu."

"O, benar !" tiba-tiba kakek Lo Kun melonjak dan menjerit
"memang raja Cu Goan-ciang pernah berpesan begitu. Supaya
mengajarkan ilmupedang itu kepada anakmuda yang jujur,
pintar dan berbakat”

"Kalau begitu engkau harus mengajarkan kan pada anak ini.
Dia memeuuhi syaratnya," kata kakek Kerbau Putih.

"Apa ? Dia memenuhi syarat ? Huh, engkau memang kakek
tolol," damprat Lo Kun, "apakah anak itu jujur, aku belum tahu karena baru saja kenal beberapa hari. Apakah dia pintar, huh.
huh, dia begitu blo'on ! Dan apakah dia berbakat .”

"Berbakat, berbakat !" teriak kakek Kerbau Putih, "dia
berbakat bagus sekali. Dulu aku memerlukan waktu berbulan-
bulan untuk mempelajari ilmu tamparan Hang-liong-sip-pat
ciang itu. Tetapi sekarang dia hanya dalam beberapa jam saja
sudah dapat melakukan dengan baik. Hayo, lekas engkau
berikan ilmu Tui-hong-kiam itu kepadanya !"

"Tidak bisa !" teriak kakek Lo Kun.

"Mengapa ?"

"Pertama, dia tak memenuhi ketika syarat itu Dan kedua,
karena aku sendiri sudah lupa dan tak dapat bermainkan ilmu
Tui-hong-kiam itu lagi”

"Ah, kakek gila !" kakek Kerbau Putih banting-banting kaki
dan memaki-maki, "masakan ilmu pusaka yang jarang
terdapat di dunia persilatan, engkau telantarkan begitu saja
sehingga hilang. Hayo, egkau harus mengingatnya lagi "

"Sekarang ?" kakek Lo Kun melongo, "tapi entah kapan aku
baru dapat mengingat seluruhnya mungkin sampai beberapa
hari mungkin berbulan-bulan."

Kakek Kerbau Putih menghela napas: "Ah....saat ini karena
kita masih harus menghadapi barisan kepala gundul itu, maka
tak usah engkau menyibukkan diri dulu. Tetapi nanti apabila
sudah senggang, engkau harus berusaha untuk mengingat
ilmupedang itu lagi."

Kakek Lo Kun mendengus.

Selama Blo'on diajari ilmu pukulan Hang liong-sip-pat-ciang
oleh kakek Kerbau Putih tadi, monyet hitam dan burung
rajawali tak henti-henti nya menirukan gerakan kakek Kerbau Putih. Memang ketiga binatang itu dapat dijinakkan dan di
latih baik oleh Blo'on. Mereka dapat menirukan gerakan orang
dengan baik.

Kemudian setelah kakek Lo Kun mengajarkan ilmu Tui-hong
kan-ing, anjing kuninglah yang menirukan gerakan kakek itu.
Dengan demikian anjing kuning dapat melakukan gerak Tui-
hong-kan ing dan monyet hitam serta burung rajawali dapat
menjalankan jurus-jurus ilmu Hang liong-sip-pat-ciang.

Kini pelajaranpun selesai dan tiba-tiba Thian Gi sipaderi
kurus berteriak : "Hai, apakah sudah selesai ?'

"Sudah, tetapi kami lelah dan harus beristirahat dulu. Kalau
engkau memang berani, tunggu saja. Kalau tidak berani,
masuklah ke dalam dan tidurlah saja !" teriak kakek Lo Kun.

Memang saat itu hari sudah petang, Sehingga para paderi
anggauta barisan Lo-han-tin itu sudah menunggu dari pagi
sampai petang. Dalam hati mereka bersungut-sungut dan
menyumpahi rombongan Blo'on tetapi mereka takut kepada
paderi kurus Thian Gi sehingga terpaksa diam saja dan telap
tegak ditempat masing-masing.

Tiba-Tiba kakek Lo Kun lari. Melihat itu Blo'on cepat
menarik lengannya : "Hendak kemana ?"

"Aku lapar, hendak cari makanan," sahut kakek Lo Kun.

"Kemana ?"

"Ruang sembahyangan, tentu masih ada sisa makanannya,"
kata kakek itu pula.

"Tak perlu engkau sendiri," kata Blo'on, "akan kusuruh
ketiga binatang itu untuk mencarikan"

Kemudian Blo'on memerintah anjing kuning, monyet hitam
dan burung rajawali untuk mencari makanan. Ketiga binatang itu segera pergi. Tak berapa lama, anjing kuning datang
dengan menggondol kuweh, lalu monyet hitam membawa ikan
dan terakhir burung rajawali. Kuweh memang dari meja
sembahyang tetapi ikan diperoleh si monyet hitam dari rumah
penduduk yang tinggal tak jauh dari gereja. Memang monyet
itu binatang yang mbeling atau nakal. Dia pandai sekali
mencuri makanan di rumah orang. Dan buah yang digondol
burung rajawali itu didapatnya dari hutan.

"Hai, mengapa belum selesai ?" teriak paderi kurus Thian
Gi.

"Nanti dulu, kami hendak makan. Kalau engkau lapar,
silaukan masuk dan makan dulu, "teriak Lo Kun.

Paderi Thian Gi mengkal. Tetapi ia seorang paderi yang
jujur dan penuh toleransi. Terpaksa ia menahan kesabarannya
lagi.

Demikian Blo’on dan kedua kakek itu segera melalap
makanan sementara barisan paderi tetap tegak di tempatnya,
tak berani berkutik.

"Celaka, habis makan harus minum. Kalau tidak makanan
itu rasanya masih berhenti dibawah kerongkonganku," teriak
kakek Lo Kun pula.

"Jangan kuatir," kata Blo'on, "akan kusuruh monyet
mencarikan air."

"Tidak, aku hendak cari sendiri saja. Aku tak mau minum
air. Aku hendak minum arak," kata kakek Lo Kun.

"Jangan kuatir," kata Blo'on pula, monyet, itu dapat
mengambilkan apa yang kita minta."

la terus berseru kepada si monyet : "Monyet hayo, carikan
arak untuk kakek Lo Kun." Monyet hitampun terus pergi.

"Eh, lumayan juga mempunyai binatang peliharaan
semacam itu ? Dari mana engkau memperoleh monyet itu ?"
tanya kakek Lo Kun.

"Entah, aku tak ingat. Tahu-Tahu ketiga binatang itu
muncul dan ikut padaku," kata Blo'on yang sudah hilang
ingatannya akan masa lampau. Padahal jelas ketiga ekor
binatang itu adalah binatang peliharaannya sejak kecil

Tak berapa lama muncultah si monyet hitam, dengan
membawa sebuah guci. Dengan cepat kakek Lo Kun terus
menyambuti dan meneguknya. “Ah...” ia menggumam dengan
penuh nikmat: "Arak wangi, arak wa ..."

"Berikan juga kepadaku !" kakek Kerbau Putih cepat
menyambarnya terus meneguk juga.

Bau arak yang keras dan harum segera bertebaran dibawa
hembusan angin. Barisan paderi itu makin gelisah. Karena
sudah sejak pagi mereka terus berdiri, mereka merasa agak
lelah. Terutama mereka merasa lapar sekali. Kini hidung
mereka dilanda bau arak yang keras dan harum sehingga
darah mereka makin menggelora. Andaikata pemimpin mereka
tak berada disitu, tentu mereka sudah Berontak dan mengusir
rombongan orang gila itu.

Demikian, apabila barisan paderi itu kelabakan setengah
mati, adalah difihak rombongan Blo’on, kedua kakek linglung
itu tengah enak-enak menikmati arak. Entah dari mana
monyet hitam memperolehnya. Tetapi arak itu memang wangi
sekali.

Berselang beberapa saat kemudian, setelah kenyang makan
dan puas minum, barulah kedua kakek itu bersiap. Mereka
segera menghampiri ketempat barisan Lo-han-tin. Saat itu hari sudah makin gelap. "Sekarang kami hendak
mulai menyerbu. Kalian boleh menghadap kemari." seru kakek
Lo Kun

Karena sudah mengkal, barisan Lo-han-tin serentak
berputar tubuh. Wajah para paderi itu tampak memancar
kemarahan.

"Sekarang silahkan menyerbu!" seru paderi Thian Gi sambil
memberi isyarat kepada anakbuahnya supaya bersiap-siap.

Tampak kakek Lo Kun, Kerbau Putih dan Blo'on kasak
kusuk. Sejenak Kemudian mereka lalu berpencar diri. Blo'on
tetap berada di muka barisan, kakek Lo Kun disamping kanan
dan kakek Kerbau Putih disamping kiri barisan.

"Serbu!" teriak kakek Kerbau Putih yang rupanya
mengangkat diri menjadi pemimpin rombongannya.

Sambil berkata ia terus maju. Demikian pula Blo'on yang
bergerak dengan ilmu pukulan Hang liong-sip pat-ciang.
Barisan Lo-han-tinpun mulai bergerak-gerak.

"Tunggu !" tiba-tiba kakek Lo Kun berteriak.

Kakek Kerbau Putih dan Blo'on serempak berhenti.
Demikian pula dengan barisan Lo-han-tin

"Mengapa ?" teriak paderi Thian Gi.

"Aduh . . . perutku mulas. Aku ingin buang air besar . . ."
teriak kakek Lo Kun dengan wajah merah dan peringisan.

Betapapun kesabaran paderi Thian Gi namun karena
merasa dipermainkan oleh lombongan kakek gila itu, iapun tak
dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Tadi minta untuk
mengajar ilmusilat. Lalu minta tempo beristirahat dan makan.
Dan ini setelah berhadap-hadapan dan bahkan sudah mulai
bergerak, tiba-tiba pula kakek pendek itu berteriak mau berak.